VALENTINO ROSSI SANG LEGENDA MOTO GP
VALENTINO ROSSI SANG LEGENDA MOTO GP
Valentino
Rossi merupakan seorang mantan pembalap legendaris yang berlaga diajang balap
terkemuka dunia MotoGP. Rossi melanjutkan dominasi di arena balap grandprix
motor dunia setelah era Michael Doohan dengan titel juara dunia berturut-turut
di empat kelas berbeda. Putra dari mantan pembalap GP 250cc Graziano Rossi dan
Stefania Palma ini telah memiliki banyak rekor dan prestasi yang melampaui para
seniornya. Hingga 2010, total pembalap eksentrik ini membubukan 9 gelar juara
dunia: satu kali juara dunia di kelas 125cc, satu kali juara dunia di kelas
250cc, dan tujuh kali juara dunia di kelas puncak, 500cc dan Moto GP. Valentino
Rossi ini lahir di Urbino, Italia pada 16 Februari 1979.
Hampir
26 tahun lamanya Valentino Rossi berkecimpung di ajang MotoGP mulai dari tahun
1996. Namun pada akhir tahun 2021 lalu, Valentino Rossi memutuskan untuk
gantung helm atau pensiun dari ajang MotoGP. Selama karirnya sepanjang
grandprix Valentino Rossi selalu menggunakan nomor balap 46, ia mengenakan
nomor itu setelah menonton aksi seorang pembalap wildcard jepang yang juga
bernomor 46 di televisi yang membuatnya terkesan. Apalagi nomor 46 tersebut
juga digunakan oleh ayahnya Graziano Rossi ketika memenangi lomba pertamanya
dengan Morbidelli tahun 1979. Hingga akhir karir balapnya Valentino Rossi
senantiasa menggunakan nomor balap 46 kebangganya itu dan tidak mengikuti
pembalap juara-juara dunia sebelumnya yang memilih berganti nomor 1 setelah
mendapatkan titel juara dunia.
Saat pertama bergabung di Gp 500cc bersama tim Honda eks Doohan yang dikepalai oleh seorang mekanik
handal Australia bernama Jerremy Burgess,
suasana paddock sangat terpengaruh perangai Doohan yang temperamental. Semua
mekanik dan staff tim tampak serius dan cenderung penuh tekanan. Suasana ini
membuat Rossi bertekad untuk merayakan besar-besaran ketika
menang. Sejak saat itulah, pesta kemenangan menjadi ciri khasnya. Tak hanya
bersama teman, juga ribuan pendukungnya yang memadati sirkuit. Ia juga
melakukan Aksi “wheelie” dan “burnout” jika memperoleh kemenangan dan kerap
memberikan “kneepad” atau topi kepada fansnya dengan melemparnya
saat berada di podium.
Dalam karir balapnya, Rossi selalu berganti julukan dan
melakukan hal-hal yang menarik perhatian serta menghibur. Ia beralasan bahwa
semua itu dilakukannya dengan niat bersenang-senang dan melakukan sesuatu yang
lucu. “Rossifumi”, julukan Rossi
yang diberikan oleh temannya saat Rossi membalap di kelas 125cc. Julukan ini
tercipta karena Rossi kagum dengan pembalap Jepang yang khas dengan rambut
panjangnya, Norick Abe. Tahun 2004, Rossi
dan Abe sama-sama membela Yamaha. Rossi
berada di tim Gauloises Fortuna Yamaha Team sedangkan Abe di Fortuna Gauloises
Tech 3 Yamaha Team. “Valentinik”,
julukan ini berasal dari tokoh kartun “Daffy Duck” yang menjadi “superhero” di
Italia bernama Paperinik. Julukan ini dipakainya pada saat membalap di kelas
250cc. Julukan lainnya adalah “The Doctor” setelah
ia naik di kelas 500cc pada musim 2000.
Pada akhir musim 2003 menjelang musim 2004, Valentino Rossi
membuat keputusan untuk hijrah dari tim pabrikan Honda,
Repsol Honda HRC. Ia memilih bergabung bersama tim Yamaha yang
terakhir meraih juara dunia pada tahun 1992 melalui pembalap Wayne Rainey. Rossi tidak pindah ke tim Yamaha
sendirian, ia juga membawa Jerremy Burgess, kepala mekaniknya yang dahulu juga
menangani Doohan dan Criville. Mereka melakukan serangkaian tes membenahi
teknologi motor Yamaha YZR M1 milik Rossi agar
mampu menandingi motor terkuat di Moto GP saat itu, RC211V milik Honda.
Mengenai kepindahannya, banyak yang tak mengira dan pesimis
bahwa Rossi akan mampu mempertahankan gelar juaranya. Tapi ia mementahkan semua
pandangan pesimis tersebut. Bahkan pada seri pertama musim 2004 di GP Welkom,
Afrika Selatan, ia mengalahkan Max Biaggi yang
mengendari motor Honda, meskipun dengan perlawanan yang sangat ketat dengan
mengendarai motor yamaha yang
terakhir berada di podium tahun 1992. Pada tahun 2004 dan 2005 Rossi mejadi juara
dunia bersama Yamaha dan menjadi pembalap Yamaha pertama yang paling banyak
menjadi juara dalam satu musim (9 kali juara pada musim 2005).
Pada
tahun 2006 dan 2007 sempat tak meraih titel juara dunia ia hanya berada di
posisi kedua klasemen. Pada tahun 2006
ia harus kalah dengan Nicky Hayden pembalap asal Amerika yang membela tim
Repsol Honda. Selisih poin yang diperoleh kala itu terbilang terpaut cukup
tipis, karena kesalahan yang dilakukan oleh Rossi di balapan penutup seri Valencia,
ia terjatuh dan harus merelakan gelar juara dunianya jatuh ketangan Nicky
Hayden. Hal itu menjadikan Nicky Hayden sebagai satu-satunya pembalap asal
Amerika serikat yang menjadi juara dunia di ajang balap MotoGP. Kemudian pada
tahun 2007 Rossi harus kembali merelakan gelar juaranya jatuh ketangan orang
lain, Yaitu Casey Stoner. Casey Stoner merupakan pembalap muda yang bergabung
pada tim Ducati corse, sebelumnya ia tergabung pada tim satelit honda. Pada
saat itu menjadikan Stoner sebagai pembalap satu-satunya yang dapat membawa tim
Ducati menjadi juara dunia.
Pada 2008, Rossi
kembali menjuarai MotoGP selepas memenangi sembilan dari 18 balapan. Raihan
apiknya berlanjut pada 2009, dan gelar di tahun tersebut jadi gelar terakhir
Rossi di MotoGP. Selepas 2009, Rossi kesulitan untuk bicara banyak lagi di
MotoGP. Sempat mencoba pindah ke Ducati, hingga akhirnya kembali ke Yamaha
lagi, Rossi urung menjadi juara. Nama-nama macam Jorge Lorenzo hingga Marc
Marquez mulai muncul ke permukaan. Di sisi lain,
usia Rossi juga semakin menua dan dia sulit bersaing dengan para pembalap muda.
Alhasil, Rossi hanya menjadi pemanis saja di MotoGP dari musim ke musim, sampai
akhirnya dia memutuskan pensiun di akhir musim 2021.
Selama kariernya,
Rossi memiliki banyak pesaing yang kerap membuatnya kesulitan di MotoGP. Di
awal karier, Rossi berkompetisi dengan Loris Capirossi dan Max Biaggi. Bahkan,
trio Rossi, Biaggi, dan Capirossi disebut sebagai three musketeers oleh
media Italia saat itu. Selepas era Biaggi dan Capirossi usai, Rossi menemukan
sosok pesaing dalam diri Sete Gibernau. Pembalap asal Spanyol itu jadi pesaing
ketat Rossi ketika dia membalap di musim terakhir bersama Honda, plus di musim
awal bersama Yamaha.
Selepas Gibernau,
Rossi kembali bertemu pesaing bernama Casey Stoner dan Jorge Lorenzo. Stoner
adalah sosok yang mampu membawa Ducati naik derajat di MotoGP, sekaligus
mengangkangi Rossi. Sedangkan Lorenzo, cerita hubungannya dengan Rossi sedikit
miris. Lorenzo sejatinya adalah rekan setim Rossi di Yamaha. Namun, keduanya
justru menghidupkan api persaingan di dalam tim. Sampai pada 2015, hubungan
keduanya meruncing setelah Rossi menuduh Lorenzo meminta bantuan Marc Marquez agar
bisa menjadi juara.
Sosok rival lain yang
juga masih dihadapi Rossi, di masa-masanya jelang pensiun, adalah Marc Marquez.
Sempat menjalin hubungan baik saat Marquez naik ke MotoGP pada 2013 silam,
hubungan keduanya mulai memanas pada 2015, dalam insiden yang melibatkan Rossi,
Lorenzo, dan Marquez. Setelah itu, hubungan Rossi dan Marquez tidak pernah
terlalu akur. Rossi sering mengkritik Marquez, dan menyebut gaya balapannya
kelewat agresif, sampai-sampai Rossi tidak mau dipandang oleh Marquez. Pada 2018,
Rossi juga menolak jabat tangan Marquez.
Tensi keduanya
menurun pada 2019, ketika Rossi dan Marquez saling bersalaman jelang gelaran GP
Argentina. Sekarang, selepas Rossi pensiun, persaingan keduanya tuntas. Begitulah warna-warni Valentino Rossi selama menjalani
karier di MotoGP. Terlepas dari tensi dan juga prestasi, Rossi sudah
menahbiskan diri sebagai salah satu legenda di dunia MotoGP lewat sembilan
gelar (tujuh gelar MotoGP, satu gelar 125cc, dan satu gelar 250cc) yang dia
dapat.

Comments
Post a Comment