Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional - Filosofi Pendidikan Indonesia
Nama : Muhammad Isa
Pradana Suliwa
Mata Kuliah : Filosofi
Pendidikan Indonesia
Pada tahap ini, Mahasiswa
meninjau ulang keseluruhan materi dari ‘Mulai dari Diri’ hingga ‘Elaborasi
Pemahaman’ untuk membuat ‘Koneksi Antar Materi’ sebagai kesimpulan
penguasaan materi ‘Perjalanan Pendidikan Nasional’ dengan uraian tugas
sebagai berikut:
- Tinjau kembali tugas individu dan
kelompok yang telah dikembangkan pada fase Mulai Dari Diri, Eksplorasi
Konsep, Ruang Kolaborasi dan Demonstrasi Kontekstual.
- Buatlah sebuah kesimpulan dan
penjelasan untuk menguatkan pemahaman Anda tentang materi Perjalanan
Pendidikan Nasional.
- Buatlah sebuah refleksi dari
pengetahuan dan pengalaman baru yang Anda peroleh dalam materi ini dan
perubahan diri yang yang Anda alami dan akan Anda praktekan di sekolah dan
kelas Anda.
Jawab :
Menjadi seorang guru
merupakan salah satu impian yang pernah saya cita-citakan sejak kecil. Sering
dipandang sebelah mata, padahal profesi guru merupakan profesi yang penuh
tantangan dan merupakan profesi yang mulia. Menjadi seorang guru tidak hanya
sebatas memberikan pengajaran atau mentransfer ilmu yang dimiliki kepada
peserta didik, lebih dari itu menjadi guru haru mampu mendidik generasi bangsa.
Meskipun perkembangan teknologi terus semakin maju terutama di bidang
pendidikan, namun seorang pendidik tidaklah bisa digantikan dengan teknologi
sebab pendidik adalah manusia yang mengemban tugas sebagai pengajar, memberikan
arahan, mengkonfirmasikan kebenaran dan memberikan evaluasi untuk peserta
didik.
Menurut Ki Hajar
Dewantara Pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi
pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Pendidikan
juga diartikan sebagai tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang
hidup dalam masyarakat kebangsaan, agar segala unsur peradaban dan kebudayaan
dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa
perlunya pemberian pendidikan kultural dan nasional dengan cara didiklah
anak-anak kita sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Pendidikan
adalah tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Maka ini artinya hidup
tumbuhnya anak terletak di luar kecakapan dan kehendak dari para pendidik.
Perjalanan pendidikan
nasional tidak terlepas dari sejarah panjang di masa lampau, misalnya
pendidikan pada masa Belanda atau kolonial yang berawal dari adanya sistem
politik etis di Indonesia. salah satu isi politik etis adalah edukasi atau
pendidikan, di mana sistem pendidikan hanya diperuntukkan untuk kalangan
tertentu sehingga terjadinya sebuah diskriminasi. Hanya golongan masyarakat
atas dan calon-calon pegawai saja yang diperbolehkan menempuh pendidikan. Salah
satu dampak dari adanya pendidikan kolonial telah melahirkan tokoh-tokoh
terpelajar yang memiliki cita-cita untuk melepaskan Indonesia dari belenggu
pemerintah kolonial. Adapun golongan terpelajar yang dimaksud adalah Soetomo
(Budi Utomo), Suwardi Suryaningrat/Ki Hajar Dewantara (Sekolah Taman Siswa),
K.H Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), R.A Kartini (Emansipasi perempuan).
Salah satu tokoh yang
memiliki peranan penting dalam perjalanan pendidikan nasional adalah Ki Hajar
Dewantara. Pada tahun 1922 didirikannya Taman Siswa di Yogyakarta yang menjadi
gerbang kebebasan dan kebudayaan bangsa. Untuk menggambarkan peran guru dalam
pendidikan, maka Ki Hajar Dewantara menggunakan “sistem among” sebagai
perwujudan menempatkan anak-anak sebagai sentral dalam proses pendidikan. Dalam
sistem ini maka setiap pamong adalah pemimpin yang diwajibkan bersikap “ing
ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tutwuri handayani”. Artinya,
guru sebagai pendidik hendaknya mampu menjadi contoh yang baik, pendidik juga
harus mampu menumbuhkembangkan minat dan kemauan anak untuk berkembang dan
berkarya, serta pendidik mengikuti dari belakang atau memberikan kebebasan,
kesempatan dan bimbingan agar anak dapat berkembang sesuai dengan inisiatifnya
sendiri.
Refleksi diri
Setelah saya mempelajari
topik 1 pada mata kuliah Filosofi Pendidikan, saya memperoleh banyak
pengetahuan baru dan terdapat beberapa perubahan yang saya rasakan, sebagai
berikut:
- Saya dapat mengetahui sejarah
perjalanan Sistem Pendidikan Nasional dari masa sebelum kemerdekaan hingga
setelah kemerdekaan bahkan pendidikan saat ini.
- Saya dapat mengetahui beberapa
pemikiran yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara dalam kaitannya dengan
Filosofi Pendidikan yang selanjutnya diadaptasi dan diimplementasikan pada
pendidikan saat ini.
- Seperti yang disebutkan oleh Ki Hajar
Dewantara yaitu Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri
handayani. Saya menjadi tahu bahwa guru sejatinya bukan sekedar mengajar,
namun harus menjadi teladan, membangun cita-cita, dan memberi dukungan
kepada peserta didik.
- Ketika nanti saya menjadi guru, maka
saya akan menerapkan prinsip kemerdekaan belajar atau merdeka belajar
dengan cara memberikan kebebasan kepada setiap peserta didik untuk
mengembangkan minat dan potensi yang ada di dalam dirinya.
- Sebagai guru saya juga harus turut
terlibat dalam menumbuhkan karakter peserta didik.
Comments
Post a Comment